Memaafkan
Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (Matius 18:22)
Suatu saat seorang anak dan ibunya berada di sebuah restoran, ketika pelayan datang membawa pesanan dengan tidak sengaja pelayan itu menumpahkan saos dari piring ke tas si ibu, pelayan dengan ketakutan meminta maaf sambil menawarkan untuk membersihkan dengan kain lap, tiba-tiba anaknya langsung berdiri menghampiri si pelayan sambil menepuk pundaknya dia mengatakan, "tidak apa nanti saya yang membersihkan di rumah", Ibunya yang tadi mau memarahi pelayan jadi berbalik ingin memarahi anaknya. Kemudian si anak bercerita bahwa ketika dia dulu di luar negeri ia mengisi waktu dengan menjadi pelayan pernah melakukan kesalahan dengan memecahkan gelas mahal di restoran itu, akan tetapi bos nya tidak memerahinya melainkan menguatirkan dirinya, tidak hanya itu ketika dia disuruh melayani tamu melakukan kesalahan pada saat menuangkan minuman mengenai pakaian tamu, tetapi tamunya berdiri menepuk pundaknya sambil berkata, "tidak apa saya akan bersihkan" sambil berjalan ke toilet. Apa yang Bosnya lakukan seperti sebuah tamparan yang lebih sakit rasanya daripada kita dimarahi dan harus menyelesaikan kesalahan.
Kemudian anak itu mengatakan kepada ibunya, orang lain bisa memaafkan saya, apakah Ibu tidak bisa memaafkan orang lain?
Setiap orang tidak lepas dari kesalahan, semua orang pernah melakukan kesalahan. Karena kesadaran akan hal ini sehingga kita bisa memaafkan orang yang bersalah.
Tuhan dalam firmannya mengajarkan kita untuk mengampuni tanpa batas. Tetapi dalam pelaksanaannya sangat susah untuk memaafkan orang yang sudah menyakiti kita. Jika kita mau melakukan firman, dan mau merendahkan hati dan diri kita, maka kita bisa dengan mudah memaafkan.
Ada orang yang selalu mengungkit kesalahan masa lalu orang lain, ini adalah dendam atau sakit hati yang belum selesai, artinya orang tersebut belum memaafkan dengan tulus kesalahan orang lain kepadanya sehingga menjadikan dendam, yang akan terus diungkit jika teringat.
Memaafkan tidak hanya dimulut, harus dengan tulus hati, yaitu dengan tidak mengingat atau melupakan kesalahan tersebut, kalaupun ingat tidak ada sakit hati lagi.
Minta kepada Tuhan untuk kita bisa melupakan hal yang menyakiti kita. Jangan biarkan hal yang buruk memenuhi hati dan pikiran kita, sehingga tidak ada damai sejahtera. Hidup cuma sekali isi hari-hari kita dengan hal-hal positif dan tidak terlalu membesarkan masalah.
Tuhan Yesus memberkati kita.
No comments:
Post a Comment