Mengampuni
[Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.] (Markus 11:26)
Hal tersulit untuk dilakukan bagi kebanyakan orang adalah memaafkan kesalahan orang terhadap kita. Terlebih jika kesalahan itu sampai mengorbankan orang yang kita sayangi, salah satu contohnya adalah kejadian beberapa tahun yang lalu, ada peristiwa pembunuhan terhadap seorang gadis oleh kekasihnya yang bekerjasama dengan bekas pacarnya. Gadis ini anak Tuhan merupakan anak tunggal bagi orang tuanya. Bisa dibayangkan betapa hancurnya perasaan orang tua yang sudah membesarkan anak satu-satunya lalu harus mati karena dibunuh oleh orang yang seharusnya melindungi. Sebagai orang tua betapa sulitnya kalau harus mengampuni orang yang sudah membunuh anak tunggalnya. Tetapi itulah yang dilakukannya mengampuni sipembunuh anaknya.
Pengampunan bukan hanya dengan perkataan saja. Pengampunan harus dengan hati yang tulus yaitu dengan tidak mengingat kesalahan orang yang kita ampuni, tidak mudah tetapi bisa dilakukan dengan pertolongan Tuhan.
Adapun pengampunan yang seharusnya adalah jika kita tidak lagi merasakan sakit hati ketika peristiwa yang menyakitkan itu timbul dalam pikiran kita. Tetapi jika kita masih merasakan sakit hati berarti kita belum sepenuhnya mengampuni. Atau kita mau menghindar ketika bertemu dengannya, itu juga berarti kita belum mengampuni. Pengampunan bukan dengan menghindar, tetapi dihadapi dan diselesaikan.
Memang tidak mudah melepaskan pengampunan, berdasarkan pengalaman saya, ketika saya disakiti saya berdoa seperti yang Tuhan Yesus ajarkan pada doa bapa kami dan seperti yang Tuhan lakukan berikut :
Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. (Lukas 23:34)
Ketika kita sudah melakukannya, pada saat kita dipertemukan dengan orang yang sudah menyakiti kita, tidak ada perasaan sakit dan bahkan ketika akan menceritakan masalah yang menyakitkan itu saya lupa. Karena dalam diri saya tidak ingin mengingat segala yang buruk. Kalaupun kita teringat kejadian itu, hati kita tidak sakit, hanya seperti cerita biasa. Kita harus bisa seperti anak kecil yang hari ini bertengkar besok sudah bermain kembali. Yang terjadi kemaren jadikan pelajaran untuk menjadi lebih baik lagi di hari ini.
Marilah kita belajar untuk tidak menyimpan segala yang buruk didalam diri kita, sehingga menjadikan kotor hati kita, buang segala sampah sakit hati itu, isi hati kita dengan segala yang baik, bersihkan hati kita, maka sukacita dan damai sejahtera selalu mengisi hari-hari kita.
Tuhan Yesus memberkati
No comments:
Post a Comment