Marah
Jangan menjadi marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri kepada orang fasik. (Amsal 24:19)
Kami sering berkendara menggunakan motor, banyak pengendara motor yang sembarangan, suami sering marah pada orang yang seenaknya berkendaraan yang terkadang menyulut emosi, ada yang menyadari kesalahannya, tetapi lebih banyak yang tidak merasa bersalah, sehingga bagi mereka yang tidak merasa bersalah ikut marah, hal ini menyebabkan pertengkaran. Kalau sudah begini, ini yang saya tidak suka, makanya saya suka menghalangi untuk tidak mengurusi orang yang dimaksud. Ketika membaca ayat diatas saya diingatkan akan hal ini. Bahwa kita tidak perlu marah kepada orang yang berbuat jahat.
Menjadi marah karena orang yang bersalah kepada kita itu adalah wajar sebagai manusia. Ayat alkitab diatas tidak bermaksud melarang marah yang wajar yaitu kepada orang yang bersalah kepada kita pada saat itu, Tuhan Yesus juga pernah marah, ketika orang berjualan di depan bait Allah (baca mat 21:12-17), mereka bukan penjahat, tetapi mereka bersalah, Tuhan tidak melarang kita marah kepada orang yang berbuat salah, tetapi melarang kita marah kepada penjahat (orang yang sering berbuat jahat). Kenapa saya katakan demikian karena pada ayat selajutnya menjelaskan :
Karena tidak ada masa depan bagi penjahat, pelita orang fasik akan padam. (Amsal 24:20)
Lebih jelas lagi pada terjemahan bahasa Inggris
Fret not thyself because of evil men, neither be thou envious at the wicked; (Proverbs 24:19)
Jadi berbuat jahat yang dimaksud adalah sering melakukan kejahatan yang disebut penjahat (evil men)
Karena setiap orang tidak luput dari kesalahan, setiap orang pernah berbuat salah, jadi bukan berarti setiap orang yang pernah bersalah atau pernah berbuat jahat adalah penjahat.
Oleh sebab itu kita harus bisa memisahkah antara orang jahat dengan orang yang berbuat jahat.
Tidak hanya kepada penjahat, tetapi kepada orang fasik yang artinya orang yang keras hati sehingga tidak percaya kepada Allah. Karena itu percuma saja kita marah apalagi iri kepada mereka.
Jadi mulai sekarang kita belajar untuk marah pada tempatnya, jangan menyia-nyiakan hidup kita untuk marah kepada penjahat atau orang fasik, jalani saja hidup kita dengan benar, ikuti firman Tuhan. Tuhan juga mengajar kepada kita untuk mengasihi musuh, mengampuni orang yang bersalah, jadi sebaiknya kita tidak memperpanjang kemarahan. Semua orang sudah ada bagian dan porsinya masing-masing.
Tuhan Yesus memberkati
No comments:
Post a Comment